MapalaPTM.com

Portal Berita Petualang



Selasa, 15 Mei 2018 - 22:37:29 WIB

Predator Sebagai Penunjang Ekosistem

Kategori: Lingkungan Diposting oleh : PMPA KOMPOS FP UNS - Dibaca: 385 kali



Surakarta, MapalaPTM.com (15/3) - Alam telah diciptakan oleh Tuhan dengan keseimbangan yang sempurna. Terdapat proses makan dan dimakan pada ekosistem yang biasa disebut dengan rantai makanan.
 
Di dalam suatu ekosistem terdapat hewan yang bertindak sebagai pemangsa dan yang dimangsa. Hewan pemangsa disebut juga dengan nama predator. 
 
Predator merupakan hewan yang memiliki kemampuan untuk berburu, menangkap, memangsa hewan lain secara alami. Predator umumnya adalah hewan Carnivora (pemakan daging) seperti serigala, harimau, elang, buaya, ikan hiu dan sebagainya.
 
Kehancuran besar-besaran pada predator  telah mengubah ekosistem dunia secara drastis. Segala jenis penyebab hilangnya predator, mulai dari serigala hingga hiu telah membuat populasi dari hewan-hewan tersebut mengalami penurunan. 
 
Penyebabnya sendiri dapat dibilang dengan cara yang tak terduga, seperti wabah penyakit, hilangnya keanekaragaman hayati, kebakaran hutan, emisi karbon dan juga karena ulah manusia yang serakah. 
 
Sebagai contoh, Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang merupakan kucing terbesar di muka bumi dan menurut WWF Indonesia, Harimau Sumatera merupakan satu dari enam sub-spesesies yang masih bertahan hidup hingga saat ini. 
 
Berdasarkan data tahun 2004, jumlah Harimau Sumatera di alam bebas hanya sekitar 400 ekor saja. Bahkan, pada spesies Harimau Jawa menurut Republika (1997), hewan tersebut sudah dianggap punah sejak tahun 1980-an
 
Memang benar bahwa predator seperti singa dan harimau, telah membunuh manusia. Juga benar bahwa serigala dalam beberapa kasus bertanggung jawab atas pembunuhan ternak. Namun menurut para peneliti, peran spesies ini dalam ekosistem sangat penting, meskipun dalam kenyataanya masih belum dihargai. 
 
Dalam pola pikir dikalangan masyarakat masih menyamakan sebuah predator dengan hama atau momok yang menyeramkan bagi manusia itu sendiri. Namun secara tidak langsung itu adalah bumerang bagi manusia. Karena sebenarnya predator sangat membantu manusia.
 
Sebagai contoh beberapa penurunan jumlah predator bahkan memberikan hasil yang lebih mengejutkan. Menurut studi kasus yang pernah ada, penurunan jumlah macan tutul dan singa di Sahara Afrika menyebabkan kenaikan pada populasi baboon (Papio anubis). Baboon ini terpaksa berpindah ke tempat yang baru karena jumlah mereka yang  semakin bertambah banyak. 
 
Populasi baboon besar sejak itu menginvasi pusat populasi manusia. Masalahnya adalah para baboon ini membawa parasit usus yang dapat berpindah ke manusia. Dalam kasus ini hilangnya predator dapat memgakibatkan penyebaran penyakit.
 
Begitu juga dengan harimau, penurunan harimau atau punahnya harimau sangat mempengaruhi ekosistem yang ada dalam suatu kawasan, karena hilangnya puncak rantai makanan akan menyebabkan tidak terkontrolnya hewan buruan. Putusnya rantai makanan juga menandakan bahwa kawasan tersebut sudah tidak mengalami keseimbangan ekosistem.
 
Perubahan rantai makanan ini memakan waktu bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun. Banyak dari hewan-hewan predator ini sudah dalam penurunan tragis sebelum kita dapat menyadari dampaknya. 
 
Kita sebagai manusia tidak bisa lagi mengabaikan masalah tersebut. Bayangkan jika dimana manusia belajar untuk menghargaiserta hidup berdampingan denganserigala dan harimau, hiu dan singa.
 
Bayangkan jika manusia dapat melihat bahwa pengaruh restorasi ekosistem lebih banyak memberikan manfaat. Maka, alam akan dapat terus lestari hingga anak cucu kita mendatang.
 
Ini bukan hanya tentang mereka, ini tentang kita.
 
 
 
 
 
 
Kontributor : Herlina Tri Kumalasari (K-561)
 
Facebook : PMPA KOMPOS
instagram : pmpakompos
email : pmpakomposfpuns@gmail.com
web : kompos.fp.uns.ac.id





Berita Terkait


Jelang Ramadhan, PMPA KOMPOS FP UNS Gelar Donor Darah
Mapala Satria UMP Siap Gelar Talk Show Dampak Mega Proyek PLTPB Terhadap Hutan Lindung Gunung Slamet
Pemutaran Film dan Diskusi Asimteris Dalam Rangka Memperingati Hari Bumi Se-Dunia
End Plastic Pollution, Tema Peringatan Hari Bumi Se-Dunia
Pecinta Alam Sebagai Ekskul Pembentukan Karakter, Anies Dukung Eksistensi Sispala Jakarta



IP Anda Adalah: 54.161.77.30

Translate



Kategori



Gallery Foto


Dua Tokoh Petualangan di Indonesia
Yuni & Cahyo
Mila Ayu Haryanti - 7 Summiter Indonesia in 100 days
Mila Ayu H
Kang Bongkeng dan Portal Berita Petualang MapalaPTM.Com
Djukardi Bongkeng
APGI: Assosiasi Pemandu Gunung Indonesia
APGI
Vicky Gosal, Seorang tokoh petualangan di indonesia
Vicky Gosal
Tim Putri Seven Summit Indonesia "Wissemu" Mahitala Unpar, Bandung
Hilda & Fransisca



Sekilas Info

Mayor John Wesley P, Bpk Arung Jeram Dunia dgn pertama kali susuri Sungai Colorado sejauh 250 mil

Apakah Anda Tahu? Salah Satu Jalur Pendakian Termahal di Dunia yaitu di Gunung Carstenz, Papua

Berkemah di alam terbuka, mengasah kreatifitas anak & mampu hadapi tantangan utk selesaikan masalah

Green Boots adalah sebutan Mayat yg tdk teridentifikasi dan menjadi acuan arah ke puncak Gn Everest

Senyuman dpt menularkan kebahagiaan kpd orang lain, Senyum yg tulus bermanfaat dlm meraih kesuksesan

Pemandu pendaki gunung Nepal Appa Sherpa telah mendaki puncak Everest 18x

Semua pendaki Gn Everest dan tim pendukung wajib angkut sampah 8 kg ketika turun

Remaja masa kini lebih lancar berkomunikasi di sosial media, dibandingkan di kehidupan nyata

Sherpa di Nepal anjurkan makan bawang putih, Cegah rasa tidak nyaman krn ketinggian gunung

Pikiran positif Anda akan menuntun kehidupan Anda pada hasil yang positif

Penelitian Menemukan Seorg yg Cintai Lingkungan adlh yg lebih diinginkan u/ Hubungan Jangka panjang

Melamun terbukti mampu buat Seseorang lebih kreatif & merangsang otak memunculkan ide-ide kreatif

Cuaca buruk, Jangan Aktifkan Hp di atas gunung jika tak ingin tersambar petir

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo





video klip hasil karya musik dari musisi IWA K yang turut mendukung #WALHI (2892325)

Merinding, Baca Sms Terakhir Supriyadi Saat Nyasar di Gunung Semeru (47588)

Pendaki asal Jakarta Meninggal Dunia Saat Mendaki ke Puncak Gunung Tertinggi di Indonesia, Carstenz (45707)

Cerita Unik Dan Menakutkan Dibalik keindahan Gunung Kerinci Jambi (35039)

Gunung Semeru Memakan Korban Lagi, Pendaki asal Depok Tewas di Kalimati pagi tadi (34306)

LOTENG Resmi Buka Jalur Baru Rinjani Terindah Terlandai & Terdekat (31421)

Mapala itu Garda Terdepan di Setiap Bencana, Sistem Diksar Dibenahi & Bukan Mapalanya dibubarkan (31014)

Pendaki yang Hilang ditemukan telah Tewas Jatuh ke Jurang sedalam 150 Meter (30631)

Pendakian Gunung Sindoro-Sumbing Terbaru Januari 2016 (27389)

Kronologis Meninggalnya Pendaki asal Depok di Kalimati Gunung Semeru (26517)

Guider Mahasiswa UIN Jatuh Ke Dasar Goa Terdalam di Indonesia, Maros Sulsel (24852)

Kronologis Meninggalnya Ike Suseta Adelia Asal Palembang di Gunung Rinjani (23221)

Kronologi Hilangnya Pendaki asal Cirebon di Gunung Semeru (21385)

Sinergitas Pecinta Alam untuk “LOMBOK BANGKIT MANDIRI”

Sukses Gelar Try Out 1 Tim Ekspedisi Soedirman Semakin Dekat Dengan Pendakian Ke Aconcagua

Persiapan menuju Astacala Telkom University Expedition (ATEX) 2018

TARANTULA ADVENTURE Adakan Pengabdian Masyarakat di Jembatan Edukasi Siluk

Mapala Satria UM Purwokerto Siap Gelar Kompetisi Panjat Dinding Se-Jawa Bali Sumatra 2018

Buka Bersama dan Talkshow "Kompetensi dan Sertifikasi dalam Bidang Pecinta Alam"

GEMAPALA BBC Cirebon Akan Menggelar Festival Ramadhan 2018

GUNUNG BUKAN MILIK KALANGAN DAN GOLONGAN.

Derita Para Petani Salingka Gunung Talang Terkait Konflik Mega Proyek PLTPB Geothermal

Dua Srikandi Gapai Puncak Gunung Tertinggi Dunia di Everest, Seven Summiter Wanita Pertama Indonesia

Predator Sebagai Penunjang Ekosistem

Jelang Ramadhan, PMPA KOMPOS FP UNS Gelar Donor Darah

Indofest 2018 Jakarta Telah Mulai Dibuka, Pagelaran Festival Outdoor Terbesar di Indonesia