MapalaPTM.com

Portal Berita Petualang



Jumat, 22 April 2016 - 02:50:23 WIB

Para Pendaki Cantik Rayakan Hari Kartini Di Atas Puncak Gunung

Kategori: Berita Diposting oleh : puput - Dibaca: 1412 kali



MapalaPTM.Com (22/4) - Raden Adjeng Kartini, lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. 

Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi, Beliau juga sebagai inspirator para pendaki-pendaki wanita di tanah air zaman sekarang untuk menjadi lebih kuat dalam menghadapi segala rintangan dan hambatan.
 
Salah satu contoh di Instagram @pryasmi, mereka harus menempuh perjalanan panjang yang mendaki untuk merayakan hari kartini di Sabana 1, Gunung merbabu via suwanting bersama teman-temannya para kaum hawa dari berbagai macam kota, seperti Semarang, Jakarta, Solo, Pacitan dan Jogja.
 
 
Inilah kutipan salah satu puisinya di instagramnya:
 
Terlahir sebagai wanita adalah hal yang membahagiakan untuk kita semua. 
Wanita yang terlahir untuk menjadi kuat. 
Wanita yang terlahir untuk bisa diandalkan. 
Wanita yang terlahir untuk menjadi hebat. 
Wanita yang terlahir untuk menjadi tangguh. 
 
untuk bisa menjadi semua itu tidak lah mudah, harus membutuhkan perjuangan, tekad yang kuat, doa dan semangat yang ada pada diri kita sendiri. 
Tetap lah menjadi wanita yang hebat, kuat, tangguh dan wanita yang bisa diandalkan.
Selamat hari Kartini untuk wanita wanita hebat yang ada di indonesia.
Jaya lah wanita indonesia, jayalah indonesia.
 
Nah, kalo di instagramnya @eca_kidiw itu ada foto 14 pendaki-pendaki cantik sedang berpose mengenakan pakaian adat kebaya untuk merayakan hari kartini di atas puncak gunung lawu.
 
Mereka berfoto yang menggambarkan ciri khas perempuan indonesia yang begitu luhur adat dan kebudayaannya.
 
 
Ada sebuah kutipan pesan di Instagram @eca_kidiw yaitu:
 
Wanita adalah sosok tangguh yang bisa menempatkan diri berperan sebagai siapapun yang ia jalani. Sebagai teman, sahabat, pemimpin, iinspiratif, ibu rumah tangga, pengusaha, tukang parkir, supir bus pendaki wanita, dan lain lain.

Emansipasi wanita sudah berhasil dijalani saat ini, tapi juga tidak sedikit dari masing masing pribadi akan sadar dengan hal tersebut, karena pada akhirnya masa depan itu tergantung dengan bagaimana wanita saat ini.

Terus berjuang meningkatkan kualitas pribadi para wanita indonesia...!!!!
Selamat Hari Kartini....
(Brain, Behavior. Brave, Beauty)
 
(Lokasi : Puncak Hargo Dumillah, Lawu Via Cemoro Sewu)
 
Tak juga ketinggalan di pelawangan Sembalun, Gunung Rinjani Lombok, Dalam foto yang diunggah instagram @t_roely, ada tiga wanita berkain kebaya berpose dilatar belakangi danau segara anak dan gunung barujari yang baru saja erupsi di waktu lalu. 
 
 
di Instagram itu juga ada sebuah kutipan:
 
selamat hari Kartini...
Teruslah maju dan berprestasi wanita Indonesia,
Kibarkanlah panji kebenaran,
Takutlah akan Tuhan,
Hiduplah dalam kemurnian,
Kembangkanlah bakat dan talenta,
Gapailah impian,
Jadilah teladan,
Sebarkanlah kasih dan kelemah-lembutan,
Ucapkanlah syukur dan hikmat,
Kalungkanlah kesetiaan,
Berlututlah dalam doa,
Berdirilah dalam firman Tuhan,
Berjalanlah dalam integritas,
Berlarilah tanpa putus asa,
Tersenyumlah kepada masa depan,
Bersukacitalah sebagai Wanita Indonesia.

Wanita Indonesia adalah wanita yg memiliki kecerdasan, kecantikan, keanggunan dan karakter ilahi.
 
 
R.A Kartini
Raden Adjeng Kartini berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini lahir.
 
Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.
 
Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat ditilik kembali ke istana Kerajaan Majapahit.
 
Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja.
 
Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan.
 
Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura.
 
Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
 
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya.
 
Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
 
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. 
 
Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
 
Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). 
 
Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. 
 
Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. 
 
Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. 
 
Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. 
 
Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.
 
Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. 
 
Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.
 
Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
 
Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.
 
 
Surat-surat
Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.
 
Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Armijn membagi buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya. Versi ini sempat dicetak sebanyak sebelas kali. Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda.
 
Terbitnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini.
 
 
Pemikiran-pemikiran
Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).
 
Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
 
Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
 
Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.
 
Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.
 
Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.
 
Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni menikah dengan Adipati Rembang.
 
 
MapalaPTM.Com Mengucapkan Selamat Hari Kartini..
 
 
 
 
 
 
Kontributor: Pendaki-Pendaki Cantik Indonesia
 
-Portal Berita Petualang-
#Twitter: @MapalaPTM
#Instagram: @MapalaPTM
#Page facebook: MapalaPTM.Com





Berita Terkait


Tips Pengemasan Barang (Packing) Untuk Pendakian Gunung
Peringati Hari Bumi Aliansi Mapala Universitas Sriwijaya
Mapala Arga Dahana UMK Fasilitasi Ratusan Siswa SD Kirim Surat Ke Jokowi
Lomba Kebut Gunung Gempa Untan Ajang Silaturahmi Pecinta Alam Se-Kalimantan
Gunung Sindoro Menunjukkan Aktivitas Vulkanik, Pendaki Dilarang Mendekat



IP Anda Adalah: 54.158.39.172

Translate



Kategori



Gallery Foto


Labengki Island have a coral clusters from large to small gives beauty that served when we visited. Labengki large and small can be used for diving. Besides diving, we can snorkel course. Plus the white sand and the color of the sea is so clear.

Unisex species Kima. One of the largest species in the world. Kima is a kind of shellfish that is large enough. And this is where there are breeding for this species.

One route that can be reached by landline is about 60 minute journey to the area Toli-Toli. From Toli-Toli followed by boat which takes about 3 hours. The fares varied depending on the agreement. Remember, the ship does not stand by 24 hours.

Photo by, @maliqkakaban
Located: Labengki Island, Lasolo - Konawe Utara, Southeast Sulawesi
Labengki Island
Miss Scuba Indonesia, Indofest 2016 @Istora Senayan, Jakarta
Miss Scuba
Kang Bongkeng dan Portal Berita Petualang MapalaPTM.Com
Kang Bongkeng
Boalemo as Regional Destinations Marine tourism destination which is supported by a diversity of customs and traditional culture in particular has a unique culture and has the charm of Culture Gorontalo multi ethnic and tribal communities who have mingled with the earth dream Boalemo in Gorontalo Province. Boalemo also has several pieces of marine parks with a huge diversity of biota.

Coral Reefs in Bitila an attractive tourist zone for exploration. Bitila group of hard coral are very diverse, depending on their habitats.

Photo Instagram by, @sassozhy_fs
Located: Love Island Eco Resort, Tilamuta - Gorontalo
Love Island
Being in Morowali, Sombori Island apparently not exposed to the public at large. In fact, the natives though. Marine conservation area of ​​more than 175 thousand hectares are home to various types of marine life.

The natural beauty and the sea was no doubt, as the island is also inhabited by the Bajo community. In addition, the landscape captivate every visitor. Therefore, the island has a coral hills is very beautiful.

This tourist area offers outstanding natural beauty and rare. In addition, the island has a cluster of coral reefs as if protruding from the surface of the sea. Sombori island has a beautiful blend of style Raja Ampat, Wakatobi and Bunaken in one spot. This exotic island also has white sand and coral reefs are untouched.

Photo Instagram by, @grandisaji
Located: Sombori Island, Morowali - Central Sulawesi
Sombori Island
Tim Putri Seven Summit Indonesia "Wissemu" Mahitala Unpar, Bandung
Tim 7Summit



Sekilas Info

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Apakah Anda Tahu? Salah Satu Jalur Pendakian Termahal di Dunia yaitu di Gunung Carstenz, Papua

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Green Boots adalah sebutan Mayat yg tdk teridentifikasi dan menjadi acuan arah ke puncak Gn Everest

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Pemandu pendaki gunung Nepal Appa Sherpa telah mendaki puncak Everest 18x

Semua pendaki Gn Everest dan tim pendukung wajib angkut sampah 8 kg ketika turun

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Sherpa di Nepal anjurkan makan bawang putih, Cegah rasa tidak nyaman krn ketinggian gunung

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Penelitian Menemukan Seorg yg Cintai Lingkungan adlh yg lebih diinginkan u/ Hubungan Jangka panjang

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo

Cuaca buruk, Jangan Aktifkan Hp di atas gunung jika tak ingin tersambar petir

Masih Jomblo? Mau Cari Pasangan Hidup yg bisa diajak Berpetualang? Join Yukkk di Kolom Jomblo





video klip hasil karya musik dari musisi IWA K yang turut mendukung #WALHI (2741535)

Merinding, Baca Sms Terakhir Supriyadi Saat Nyasar di Gunung Semeru (45195)

Gunung Semeru Memakan Korban Lagi, Pendaki asal Depok Tewas di Kalimati pagi tadi (31693)

LOTENG Resmi Buka Jalur Baru Rinjani Terindah Terlandai & Terdekat (28928)

Pendaki yang Hilang ditemukan telah Tewas Jatuh ke Jurang sedalam 150 Meter (28830)

Mapala itu Garda Terdepan di Setiap Bencana, Sistem Diksar Dibenahi & Bukan Mapalanya dibubarkan (27935)

Kronologis Meninggalnya Pendaki asal Depok di Kalimati Gunung Semeru (24023)

Guider Mahasiswa UIN Jatuh Ke Dasar Goa Terdalam di Indonesia, Maros Sulsel (22871)

Cerita Unik Dan Menakutkan Dibalik keindahan Gunung Kerinci Jambi (21969)

Kronologi Hilangnya Pendaki asal Cirebon di Gunung Semeru (19266)

Tim SAR Gabungan Temukan Dua Pendaki Hilang di Gunung Semeru (19033)

Kronologis Meninggalnya Ike Suseta Adelia Asal Palembang di Gunung Rinjani (18848)

Pendakian Gunung Sindoro-Sumbing Terbaru Januari 2016 (17305)

Tiba-tiba Hutan Bersertifikat, Warga Marah Serukan Presiden Tangkap Mafia Tanah & Perambah Hutan

Ini Yang Selalu Pendaki Wanita Khawatirkan Saat Naik gunung!

Mengenal Lebih Dekat Organisasi Mahasiswa Pecinta Alam STMIK Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Kronologis Tiga Pendaki Gunung Kencana asal Bekasi yang Tersambar Petir di Cisarua Bogor

Setelah Hilang Selama Sepekan, Pendaki Gunung ini ditemukan Selamat dipinggir Tebing Sungai

Kronologi Setelah Hilang Semalaman & Pendaki asal Yogyakarta ditemukan Meninggal di Gunung Rinjani

Terkena Guyuran Hujan Lebat, Pendaki Wanita Gunung Carstenz Jatuh Sakit & dievakuasi via Helikopter

Jalur Pendakian Gunung Prau Ditutup, Para Pendaki yang Terlanjur Datang diarahkan Berwisata ke Dieng

Pakai Jeans & Sepatu Kets, Pengelola Pendakian Gunung Prau Sesalkan Para Pendaki Seperti Wisatawan

Mantapkan Skill Anggota Muda, Mapala Gegama UGM Yogyakarta Gelar Pemanjatan Tebing di ParangNdog

Kronologi Tim Ranger Evakuasi Pendaki asal Demak yang Terjatuh Saat Turun dari Puncak Gunung Sindoro

Suasana Haru di Pemakaman, Puluhan Orang Antar Jenasah Pendaki Tersambar Petir di Gunung Prau

Cuaca Ekstrem Melanda Pegunungan di Jawa Tengah, Pendaki Dihimbau Jangan Main Handphone